ANALISIS KETUNTASAN BELAJAR

A. KETUNTASAN BELAJAR

  1. Kriteria KOMPETEN:



  • Mampu memahami konsep yang mendasari Kompetensi Dasar (KD) dan Standar Kompetensi (SK) yang harus dikuasai/dicapai
  • Mampu melakukan pekerjaan sesuai dengan tuntutan KD dan SK yang harus dicapai, dengan cara dan prosedur yang benar dan hasil yang baik/benar
  • Mampu mengaplikasikan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat dan lingkungannya (di dalam dan di luar sekolah)
  1. Siswa dinyatakan KOMPETEN apabila telah mencapai KEtuntasan belajar pada seluruh indikator, KD dan SK yang telah ditetapkan
  2. Hasil penilaian pencapaian indikator, kd dan sk dimaksud, harus dapat dinyatakan baik dalam bentuk angka maupun deskripsi sebagai berikut:
  • Untuk penilaian pada aspek pengetahuan dan pemahaman konsep (aspek kognitif) dan aspek praktek (aspek psikomotor), nilai yang dicantumkan dalam laporan hasil belajar siswa (LHBS) dalam bentuk angka (bilangan bulat) yang dilengkapi degan keterangan /penjelasan tentang KD yang telah mencapai ketuntasan belajar maupun yang belum mencapai ketuntasan, misalnya sebagai berikut:

Mata Pelajaran 

Nilai 

Keterangan 

 

Bahasa Inggris 

 

80 

Kemampuan menyimak, membaca, berbicara telah mencapai ketuntasan, tetapi kemampuan menulis perlu ditingkatkan

 

Matematika 

 

85 

Kompetansi dalam mendefinisikan rumus dan pemahaman konsep ruang/dimensi tiga telah mencapai ketuntasan, tetapi kemampuan aplikasi masih perlu ditingkatkan melalui latihan

 

  • Untuk penilaian SIKAP (Afektif) nilai yang dicantumkan pada LHBS dalam bentuk kualifikasi (tinggi, sedang, rendah atau amat baik, baik, cukup dan kurang), disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pelajaran, sebagai contoh:

Mata Pelajaran 

Nilai 

Keterangan

Bahasa Inggris 

Baik  

Sikap berkomunikasi lisan, baik

Matematika 

Tinggi  

Minat dan motivasi belajar tinggi

PENETAPAN SKBM
  1. Standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) adalah tingkat pencapaian standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) oleh siswa pada tiap mata pelajaran
  2. Untuk memudahkan dalam proses penetapan SKBM, maka nilai ketuntasan belajar siswa dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat, dengan rentang 0-100
  3. Nilai ketuntasan belajar maksimum adalah 100
  4. Sekolah dapat menetapkan nilai ketuntasan belajar minimal di bawah nilai ketuntasan belajar maksimum (100), namun sekolah harus merencanakan target dalam waktu tertentu untuk mencapai ketuntasan belajar maksimum
  5. SKBM yang ditetapkan oleh guru harus diasumsikan dapat dicapai secara bertahap oleh seluruh siswa pada kelas yang terkait (termasuk siswa yang memiliki kemampuan rendah). Untuk itu, sekolah perlu membuat nilai terendah untuk setiap indikator dan KD yang mampu dicapai oleh siswa yang memiliki kemampuan rendah
  6. Nilai ketuntasan belajar minimal (SKBM) ditetapkan untuk setiap mata pelajaran (tiap semesternya), mulai dari kelas VII, VIII, IX untuk tingkat SMP dan kelas X, XI hingga kelas XII untuk tingkat SMA
  7. Penetapan ketuntasan belajar minimal, dapat dilakukan oleh forum guru yang berada di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Akan lebih baik bila melibatkan guru dari sekolah lain yang terdekat (yang telah melaksanakan Kurikulum 2004) atau forum MGMP kabupaten/kota setempat.
  8. Penetapan nilai ketuntasan belajar minimal tiap standar kompetensi, dilakukan melalui analisis nilai ketuntasa belajar minimal untuk setiap kompetensi dasar (KD)
  9. Penetapan nilai ketuntasan belajar minimal tiap KD, dilakukan melalui analisis indikator pencapaian (IP) pada setiap KD terkait, karena indikator merupakan acuan/rujukan bagi guru untuk membuat soal ujian, baik ujian harian, mingguan, bulanan, semesteran, ujian blok atau tugas-tugas. Soal ujian atau tugas-tugas harus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian setiap indikator yang diujikan. Dengan demikian, guru tidak perlu melakukan pembobotan terhadap hasil ujian yang dilaksanakan dalam setiap semester, karena seluruhnya memiliki hasil ujian yang setara

 

Catatan:

  • Apabila sekolah menerapkan sistem ujian blok pada sejumlah KD, maka hasil ujiannya harus tetap dapat dianalisis tingkat ketercapaian setiap indikator dan setiap KD yang diujikan.
  • Ada kemugkinan ke depan, ujian blok atau semesteran dihilangkan, karena penilaian sudah terpenuhi melalui pencapaian indikator pada tiap KD yang diujikan pada pelaksanaan kegiatan harian
  1. Nilai SKBM
    tiap mata pelajaran dalam satu sekolah dimungkinkan terdapat banyak perbedaan, bahkan antara nilai SKBM semester I belum tentu sama dengan nilai SKBM semester II, dan seterusnya. Karena SKBM betul-betul ditentukan oleh hasil analisis yang dilakukan guru-guru yang akan melaksanakan pembelajarannya
  2. Setiap KD dan IP dimungkinkan adanya perbedaan nilai katuntasan belajar minimal, dan penetapannya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    1. Tingkat essensial (tingkat kepentingan materi) baik dari segi substansi keilmuan, maupun dari segi kompetensi (pada setiap indikator terhadap KD, dan pada setiap KD terhadap SK) yang harus dicapai oleh siswa pada setiap semester. Forum guru terlebih dahulu harus menentukan kriteria untuk dapat menentukan tingkat essensial indikator-indikator pada setiap KD dengan tepat. Kriteria tingkat essensial suatu indikator pencapaian (IP) dari setiap KD, didasarkan antara lain sebagai berikut:

Klasifikasi 

Rincian 

Catatan 

 

 

 

Sangat Essensial

 

Bila indikator tersebut berfungsi sebagai kunci / inti yang:

  • Bermakna dna bermanfaat untuk pencpaian indikator lainnya pada KD terkait
  • Bermakna dan bermanfaat untuk pembekalan kecakapan hidup pada siswa
  • Mampu mewakili indikator pendukung lainnya 

Setiap indikator kunci harus diujikan. Hal ini untuk melihat tingkat pencapaian siswa terhadap KD yang terkait

 

 

Essensial 

Bila indikator berfungsi sebagai indikator pendukung yang dapat melengkapi indikator kunci dalam:

  • pencapaian indikator lainnya pada KD terkait
  • pembekalan kecakapan hidup pada siswa

Indikator pendukung tidak harus diujikan, apabila indikator kunci sudah dapat mewakili indikator tersebut.

Klasifikasi 

Rincian 

Catatan 

 

 

Kurang Essensial 

Sifat essensial tidak berubah, tapi nilai standar ketuntasan belajar IP/KD/SK dapat berubah (ditetapkan lebih rendah). Apabila IP/KD/SK materi tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi, atau dalam pelaksanaan pembelajarannya memerlukan ketersediaan sumber daya pendukung yang memadai

 

 

  1. Tingkat kompleksitas (kesulitan dan kerumitan) setiap IP/KD yang harus dicapai oleh siswa.

    Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, apabila dalam pencapaiannya didukung oleh sekurang-kurangnya satu dari kondisi berikut:

  • SDM yang memahami dengan benar kompetensi yang harus dibelajarkan pada siswa
  • SDM yang kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang bervariasi
  • Waktu yang cukup lama, karena memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi, sehingga dalam pembelajarannya memerlukan pengulangan atau latihan
  • Tingkat kemampuan penalaran dan kecermatan yang tinggi, agar siswa dapat mencapai ketuntasan belajar
  • Sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai siswa dll

    Contoh:

    IP atau KD yang sangat essensial, seharusnya dicapai oleh siswa dengan nilai 100, namun karena IP atau KD dimaksud menuntut pembelajaran praktek, sedangkan sarana pendidikan yang tersedia di lingkungan sekolah belum memenuhi kebutuhan, maka pada tahap awal pelaksanaan Kurikulum 2004, sekolah dapat menetapkan nilai ketuntasan belajar minimal kurang dari 100, dan secara bertahap sekolah harus tetap berupaya untuk meningkatkan standar ketuntasan belajar hingga mencapai nilai 100.

     

    Catatan:

    Meskipun SKBM yang ditetapkan masih di bawah nilai 100, guru harus tetap melaksanakan pembelajaran praktek sesuai dengan tuntutan IP dan KD dimaksud, dengan cara memanfaatkan sarana yang ada di luar sekolah, atau membuat sendiri dengan melibatkan seluruh siswa.

  1. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata siswa di sekolahyang bersangkutan. Penetapan SKBMdi kelas VII untuk SMP dan kelas X untuk SMA, didasarkan pada hasil seleksi (misalnya) pada saat PSB. Sedangkan untuk penetapan SKBM pada semester atau kelas berikutnya, didasarkan pada rata-rata tingkat pencapaian kompetensi siswa pada semester/kelas sebelumnya.
  2. Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-masing sekolah (tenaga, sarana pendidikan yang sangat essensial, biaya pendidikan dan lain-lain)
  1. Beberapa hal yang daapat dijadikan sebagi acuan dalam membuat rasionalisasi pada saat guru menetapkan SKBM, antara lain sebagai berikut:
  • Nilai ketuntasan belajar minimal setiap kompetensi dasar (KD) merupakan rata-rata nilai ketuntasan belajar minimal setiap indikator. Siswa dinyatakan telah mencapai SKBM untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh Indikator pada KD dimaksud
  1. Rambu-rambu analisis penentuan SKBM, dapat dilakukan dengan mengunakan contoh format A sebagaimana terlampir
  2. Penentuan SKBM, dapat dilakukan dengan mengunakan contoh format B sebagaimana terlampir
  3. Nilai ketuntasan belajar minimal tersebut dicantumkan dalam laporan hasil belajar siswa (LHBS/raport) dan harus diinformasikan kepada seluruh warga sekolah dan orang tua siswa.
  4. Selanjutnya, dalam melakukan penetapan SKBM, agar mengacu pada buku pedoman umum dan pedoman khusus penilaian kurikulum 2004 dan pedoman lainnya yang telah diterbitkan oleh Dikmenum atau referensi lain yang relevan.

 

ANALISIS PENCAPAIAN STANDAR KETUNTASAN BELAJAR SISWA

  1. Analisis pencapaian standar kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan analisis rata-rata hasil pencapaian siswa terhadap SKBM yang telah ditetapkan guru pada setiap mata pelajaran.
  2. Analisis pencapaian SKBM siswa dibuat secara berkelanjutan dengan menggunakan data hasil pencapaian ketuntasan belajar per indikator dan KD dari setiap siswa (sebelum remedial maupun setelah dilakukan remedial), baik yang diperoleh melalui ulangan harian, mingguan, bulanan atau blok serta tugas-tugas pada setiap semester, mulai dari kelas VII – IX untuk tingkat SMP dan kelas X – XII untuk tingkat SMA.
  3. Analisis pencapaian SKBM siswa dapat dilakukan dengan menggunakan contoh format C sebagaimana terlampir.
  4. Melalui analisis SKBM dimaksud, diharapkan akan diperoleh data antara lain tentang:
  • KD, yang dapat dicapai oleh 75% – 100% dari jumlah siswa pembelajar pada tingkat kelas tertentu
  • KD, yang dapat dicapai oleh 50% – 74% dari jumlah siswa pembelajar pada tingkat kelas tertentu
  • KD, yang hanya dapat dicapai oleh ≤49% dari jumlah siswa pembelajar pada tingkat kelas tertentu
  1. Hasil analisis dimaksud, sangat bermanfaat bagi guru untuk:
  • Menetapkan SKBM pada semester atau tingkat kelas berikutnya

Meningkatkan hasil pencapaian ketuntasan belajar siswa (prestasi belajar) melalui upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

About these ads

Tentang aharomain

orang cherbond asli tepatnya di desa kroya panguragan cirebon
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s